Candi
Roro Jonggrang yang sering disebut Candi Prambanan terletak di perbatasan
propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan propinsi Jawa Tengah. Kurang lebih 17
Km ke arah timur dari kota Yogyakarta atau kurang lebih 53 Km sebelah barat
Solo. Komplek Percandian Prambanan ini masuk kedalam 2 wilayah yakni komplek
bagian barat masuk wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta dan bagian timur masuk
wilaya propinsi Jawa Tengah. Percandian Prambanan berdiri disebelah Timur
sungai Opak kurang lebih 200 m sebelah utara Jl. Raya Yogya-Solo.
a.
Asal
Usul Nama
Gugusan nama candi ini dinamakan “PRAMBANAN”
karena terletak di daerah Prambanan. Nama “LORO JONGGRANG” berkaitan dengan
legenda yang menceritakan tentang seorang dara yang Jonggrang / Gadis Jangkung
Putri Prabu Boko.
b. Sejarah
Candi Prambanan adalah kelompok percandian
Hindu yang dibangun oleh raja – raja dinasti Sanjaya pada abad IX. Diketemukannya
nama pikatan pada candi ini menimbulkan pendapat bahwa candi ini dibangun oleh
Rakai Pikatan yang kemudian diselesaikan oleh Rakai Balitung berdasarkan
prasasti berangka tahun 865 M “Prasasti Siwargrha” sebagai manifest politik
untuk meneguhkan kedudukannya sebagai raja yang besar. Terjadinya perpindahan
pusat kerajaan mataram ke Jawa Timur berakibat tidak terawatnya candi – candi
di daerah ini ditambah terjadinya gempa bumi serta beberapa meletusnya Gunung
Berapi menjadikan candi Prambanan runtuh tinggal puing – puing. Itulah keadaan
pada saat penemuan candi prambanan.
-
Deskripsi
Bangunan
Komplek
percandian prambanan terdiri atas latar bawah, latar tengah dan latar atas
(latar pusat) yang makin ke arah dalam makin tinggi letaknya. Berturut – turut luasnya
: 390 m2, 222 m2 dan 110 m2. Di dalam latar
tengah terdapat reruntuhan candi – candi perwara, latar bawah tak berisi
apapun. Apabila seluruhnya telah selesai di pugar maka akan ada 224 candi yang
ukurannya semua sama yaitu luas dasar 6 m2 dan tingginya 14m.
-
Bagian
– bagian Candi
o
Candi
Siwa
Candi
dengan luas dasar 34 m2 dan tinggi 47 m adalah yang terbesar dan
terpenting. Dinamakan “Candi Siwa” karena di dalamnya terdapat arca siwa
mahadewa yang merupakan arca terbesar. Bangunan ini di bagi atas 3 bagian
secara vertikal kaki, tubuh, kepala / atap. Kaki candi menggambarkan “dunia
bawah” tempat manusia yang masih diliputi hawa nafsu. Tubuh candi menggambarkan
“dunia tengah” tempat manusia yang telah meninggalkan keduniawian dan atap /
kepala melukiskan “dunia atas” tempat para dewa.Pada dinding langkan sebelah
dalam terdapat relief cerita Ramayana yang dapat di ikuti dengan cara
“pradaksina” (berjalan searah jarum jam) mulai dari pintu utama.
-
Arca
Siwa Mahadewa
Menurut ajaran Trimurti – Hindu yang
paling dihormati adalah Dewa Brahma sebagai pencipta alam, Dewa Wisnu sebagai
pemelihara dan Dewa Siwa sebagai perusak alam. Di Jawa ia dianggap tertinggi
karena ada yang menghormati sebagai mahadewa.
-
Arca
Siwa Mahaguru
Arca
ini berwujud seorang tua berjenggot yang berdiri dengan perut gendut. Arca ini
menggambarkan seorang pendeta alam dalam istana Raja Balitung sekaligus seorang
penasehat dan guru.
-
Arca
Ganesha
Arca
ini berwujud manusia berkepala gajah bertangan 4 yang sedang duduk dengan perut
gendut. Tangan – tangan depannya memegang tasbih dan kampak, sedangkan tangan –
tangan belakangnya memegang patahan gadingnya sendiri dan sebuah mangkuk. Ujung
belalainya dimasukkan ke dalam mangkuk yang menggambarkan bahwa ia tak pernah
puas meneguk ilmu pengetahuan.
-
Arca
Durga / Loro Jonggrang
Arca
ini berwujud seorang wanita bertangan 8 yang memegang beraneka macam senjata.
Menurut Mitilogi ia tercipta dari lidah api yang keluar dari tubuh para dewa.
Arca ini menggambarkan permaisuru Raja Balitung.
o
Candi
Brahma
Luas dasarnya
20 m2 dan tingginya 37 m. Di dalam satu – satunya ruangan yang ada
berdirilah arca Brahmana berkepala 4 dan berlengan 4 salah satu tangannya
memegang tasbih yang satunya memegang “kamandalu” tempat air. Keempat wajahnya
menggambarkan kitab weda masing – masing menghadapa ke empat mata angin.
Sebagai pencipta ia membawa air karena seluruh alam keluar dari air tasbih
menggambarkan waktu.
o
Candi
Wisnu
Bentuk, ukuran relief
dan hiasan dinding luarnya sama dengan candi Brahma. Di dalam satu – satunya
ruangan yang ada berdirilah arca wisnu bertangan 4 yang memegang gada, cakra,
tiram.
o
Candi
Nandi
Luas dasarnya 15 m2
dan tingginya 25 m di dalam satu – satunya ruangan yang ada, terbaring arca
seekor lembu jantan dalam sikap merdeka dengan panjang kurang lebih 2 m.
Disudut belakangnya terdapat arca dewa candra yang bermata tiga berdiri di atas
kereta yang ditarik 10 ekor kuda. Surya berdiri diatas kereta yang ditarik 7
ekor kuda.
o
Candi
Angsa
Candi
ini berisi 1ruangan yang tak terisi apapun. Luas dasarnya 13m2 dan
tingginya 22 m. Mungkin ruangan ini hanya dipakai untuk kandang angsa hewan
yang biasa dikendarai brahma.
o
Candi
Garuda
Bentuk ukuran serta
hiasan dindingnya sama dengan candi angsa. Di dalam satu – satunya ruangan yang
ada terdapat arca kecil yang berwujud seekor garuda di atas seekor naga. Garuda
adalah kendaraan wisnu.
o
Candi
Apit
Luas dasarnya 6m2
dengan tinggi 16m. Ruangnya kosong mungkin candi ini dipergunakan untuk
bersemedi sebelum memasuki candi – candi induk. Karena keindahannya mungkin digunakan
untuk menanam estetikan dalam komplek percandian.
o
Candi
Kelir
Luas dasarnya 1,55m2
dengan tinggi 4,10m. Candi ini tidak mempunyai tangga masuk. Fungsinya sebagai
penolak.
o
Candi
Sudut
Ukuran candi – candi ini sama dengan Candi Kelir.

No comments:
Post a Comment